Buah tersebut berukuran cukup kecil dan menggerombol dalam setiap tangkainya. Rasa buahnya asam bercampur dengan sepat. Konon jika wanita hamil makan buah itu maka anak yang dilahirkan bisa berwajah tampan atau cantik dengan kulit putih dan halus. Begitu pula bagi pasangan yang belum memiliki anak. Dengan memakannya, dipercaya dapat segera mempunyai momongan.
“Buah ini dipercaya dapat membuat sang jabang bayi cakap saat dilahirkan. Parijoto merupakan tanaman peninggalan atau warisan Sunan Muria,” kata Ketua Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan (PMPH) Pegunungan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Muhamad Sokib Garno Sunarno, Selasa (19/7/2016).
Selain itu, parijoto juga dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit, antara lain sariawan, diare, dan kolesterol.
http://ustantodp.sharethisstory.net/id-647380-5526?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign
Namun, saat ini, parijoto sudah dibudidayakan sebagai tanaman hias karena bentuk buahnya yang cukup menarik dengaa warna mencolok. Tanaman yang termasuk jenis perdu dengan nama latin Medinilla Speciosa serta Anggur Asia (Showy Asian Grapes) itu merupakan primadona Pegunungan Muria, Kudus.
http://ustantodp.sharethisstory.net/id-647380-5530?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign
“Tidak ada waktu tertentu untuk panen parijoto. Buah ini dapat dipanen setiap saat,” imbuh Sokib.
Parijoto yang ditanam di hutan rakyat Pegunungan Muria tersebut dikelola warga setempat. Ada sekitar lima petani yang mengelola tanaman yang berada di lahan seluas dua hektare tersebut.
Menurutnya, parijoto merupakan satu diantara tanaman yang membawa dirinya meraih Kalpataru 2016 pada kategori Pembina Lingkungan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Ia bakal menerima penghargaan tersebut di Siak, Riau dari Presiden Joko Widodo.
http://ustantodp.sharethisstory.net/id-647380-5528?utm_source=&utm_medium=&utm_campaign
Selain menjaga kearifan lokal dengan melestarikan tanaman parijoto, ia juga dinilai berhasil membina masyarakat sekitar untuk bersama-sama melestarikan hutan. Selain membentuk Paguyuban Masyarakat Pelindung Hutan, ia juga membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Colo untuk mengelola potensi wisata serta ekonomi yang ada di lereng Muria tersebut.
Kalpataru merupakan penghargaan di bidang lingkungan hidup yang diberikan pemerintah Republik Indonesia kepada individu atau kelompok yang dinilai telah berkontribusi besar terhadap pengelolaan dan perlindungan lingkungan hidup. Terdapat empat kategori penerima penghargaan kalpataru, yaitu perintis lingkungan, pengabdi lingkungan, penyelamat lingkungan, dan pembina lingkungan.
Untuk kategori Pembina Lingkungan diberikan kepada pengusaha atau tokoh masyarakat yang membangkitkan kesadaran lingkungan dan peran masyarakat menemukan teknologi baru ramah lingkungan.
sumber:dari berbagai media
No comments:
Post a Comment
Komentar